ads

Senin, 31 Mei 2010

Fakultas Psikologi UIN buka pendaftaran

Kampusiana - Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta membuka kembali pendaftaran untuk tahun ajaran 2010-2012. pendaftaran ini dilakukan melalui 5 cara; UMB-PTN, SNMPTN, PMDK dan SPMB-PTAIN. Sampai dengan hari ini (31/05), tanggal pendaftaran yang masih terbuka untuk diikuti adalah melalui SPMB Mandiri (11 May - 2 Juli 2010) dan SPMB-PTAIN yang baru akan dibuka pendaftarannya pada tanggal 14 sampai dengan 30 Juni 2010. 

Fakultas Psikologi UIN Jakarta didirikan pada tahun 1995 sebagai program studi dan pada tahun 2002 menjadi fakultas. Psikologi menjadi fakultas umum pertama di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan telah diakreditasi oleh BAN-PT.

Pendaftaran dapat dilakukan jika telah memenuhi syarat syarat seperti Foto Copy Ijazah, Nilai Ujian Nasional, dan Ujian Sekolah yang telah dilegalisir, Pas Photo 2x3, 3x4, 4x6  masing masing 4 Lembar, mengisi formulir pendaftaran dan membayar biaya pendaftaran sebesar 300.000,- melalui bank yang telah ditentukan. (info lengkap di http://www.uinjkt.ac.id) biaya semester pertama sebesar 2100.000,- dan semester selanjutnya sebesar 1475.000,-

pic source : pan photography

Jumat, 12 Maret 2010

Sekulerisme, Liberalisme dan Pluralisme Adalah Solusi Bagi Indonesia.

Bedah Buku Membela Kebebasan Beragama.


Tangerang, Lekompress - Laboraturium Filsafat Islam dan Tasawuf (Labfit) Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (FUF) UIN Jakarta berkerjasama dengan Universitas Paramadina menggelar diskusi dan bedah buku “Membela Kebebasan Beragama”, Rabu (10/3) lalu. Acara yang bertempat di ruang teater lt. 4 FUF ini menghadirkan Cendikiawan Muslim Media Fauzul A., Ketua Labfit Nanang Tahqiq, dan Budhy Munawar Rachman (Editor).

Buku terbitan Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF) ini memuat percakapan dengan 70 tokoh muslim di Indonesia, membahas kebebasan beragama di Indonesia dan permasalahannya. Ide dasar buku ini, sebagaimana diutarakan Bhudy dalam pengantar buku, yang dibagikan gratis dalam cetakan terpisah adalah, Indonesia merupakan negara yang sangat majemuk dengan aneka ragam suku, bangsa, budaya dan agama. Ini bisa menjadi berkah jika dihargai dan menjadi modal untuk kemajuan bangsa Indonesia. Sebaliknya akan menjadi musibah berupa konflik dan semacamnya, manakala diabaikan dan dipaksakan menjadi tunggal.

Konflik biasa terjadi lantaran satu kelompok menganggap kelompok lain bermasalah, menyimpang atau sesat. Tapi hal ini takkan terjadi tanpa ada pemicunya.

Budhy juga mengatakan, salah-satu pemicu konflik di Indonesia ialah fatwa-fatwa MUI, misalnya pengharaman sekulerisme, pluralisme dan liberalisme. Fatwa ini memang tidak mempunyai kekuatan secara hukum di negara kita. Namun dampak politisnya, memperkeruh kehidupan berbangsa di tanah air kita, yang sebelumnya berjalan cukup harmonis.

Fatwa MUI jelas melanggar basis-basis moral keislaman universal karena tampak ekslusif, tidak pluralis dan cenderung diskriminatif. Akibatnya terjadi pembenaran terhadap anarkisme, seperti penganiayaan terhadap pemeluk Ahmadiyah, tragedi monas, penutupan-penutupan gereja dsb.

Keragaman dan kemajemukan adalah fakta tak terelakkan di negeri ini. Hal itu tak akan mengarah pada perkembangan yang baik tanpa trilogi sekularisme, liberalisme dan pluralisme. Sayangnya, MUI memberi definisi sendiri yang beraroma negatif. Misalnya, liberalisme ditafsirkan berfikir sebebas-bebasnya kemudian meninggalkan agama. MUI juga mengharamkan sekulerisme, liberalisme dan pluralisme dengan anggapan para pembela trilogi ini menjadikan agama hanya urusan akhirat belaka.

Di sini Bhudy menjelaskan, sekulerisme adalah pemisahan secara relatif antara agama dan negara. Hal ini diupayakan agar tak ada dua kekuatan yang berkolaborasi menjadi negara agama atau agama negara. Sebab resikonya sangat tinggi, yakni timbulnya otoriarian kekuasaan yang sangat kuat. Dalam sejarah, baik Islam maupun Eropa, hal ini telah menimbulkan pengalaman traumatis. Inti sekulerisme adalah demokrasi, dan inti demokrasi adalah tidak dimungkinkannya satu bidang ke semua bidang lainnya. Semenatara demokrasi hanya bisa berkembang, kalau masyarakatnya liberal.

Memang banyak kritikan keras terhadap liberalisme. Tapi sebenarnya yang dimaksud dari liberalisme yaitu suatu perlindungan terhadap hak-hak dan kebebasan sipil. Karena itu liberalisme amat dibutuhkan, termasuk dalam pemikiran agama. Dengan liberalisme, kesehatan dan keseimbangan agama akan terjaga. Sebab, berfikir liberal, rasional dan kritis merupakan cita-cita yang tak bisa dinafikan.

Sementara itu, pluralitas merupakan bibit perpecahan. Karena itu, diperlukan sikap toleran, keterbukaan dan kesetaraan. Itulah inti gagasan pluralisme. Pluralisme memungkinkan terjadinya kerukunan dalam masyarakat, bukan konflik.[MSW]

Konser Tunggal Postar Jilid III

Tangerang, Lekompress- Untuk kali ketiga, Pojok Seni Tarbiyah (Postar) menggelar konser tunggal Rabu (10/3) malam lalu. Agenda tahunan Lembaga Semi Otonom (LSO) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah, Ciputat, Tangerang tersebut mengambil tema, “Seni Untuk Jiwa”.

Pada kesempatan ini, Postar menampilkan seluruh hasil kreativitasnya seperti, Band Performance, Tari Saman, Pentas Teater dan sebagainya. Di di tepi lain, ada pula Karawitan Jawa, serta yang baru di-launching malam itu juga, yakni Degung Sunda.

Dalam sambutannya, Pudek III FITK mengungkapkan, Postar adalah kumpulan para BOS (Bukan Orang Sembarangan). Lembaga ini menjadi salah-satu keunggulan Fakultas Tarbiyah dibanding fakultas lain di UIN. “Dengan Postar, mari kita tunjukkan bahwa mahasiswa bisa mengembangkan kreativitas tanpa mengorbankan kuliahnya,” ajak Pudek III FITK.[MSW]

Senin, 08 Maret 2010

TNI Belajar Ekonomi Dan Gerilya Pada Tan Malaka

Tangerang-Lekompress, “Ketika itu saya kelas IV SD. Tan Malaka pernah menginap dan tidur sekamar dengan saya. Beliau bertanya, ‘Buyung, kalau ada maling masuk ke rumahmu, apa yang kamu lakukan? Apakah kamu ajak berunding, menjamunya atau dibiarkan saja?’” “Tidak Buyung, kalau ada maling masuk ke rumah, yang pertama kita lakukan adalah tendang dulu dia keluar.”
Demikian Adnan Buyung Nasution menceritakan kisah puluhan tahun lalu bersama Tan Malaka, pada acara “In Memoriam 61 Tahun Hilangnya Tan Malaka” senin (8/3) di Aula Student Center UIN Jakarta. Dalam penyelenggaraannya, panitia In Memoriam menggandeng Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) IPA Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Jakarta.
Selain Buyung, hadir sebagai pembicara Asvi Warman Adam (sejarawan dan peneliti LIPI), Zulhasrul Nasir (Guru Besar Ilmu Komunikasi Fisip UI), M. Arif (Dosen pendidikan dan peneliti sejarah UIN Jakarta), serta di moderatori Bonie Triyana (Chief Editor Historia Of Indonesia).
Pada kesempatan ini, Adnan Buyung Nasution juga mengungkapkan, Tan Malaka adalah orang yang bercita-cita, jika merdeka, Indonesia harus menjadi negara republik. Ini merupakan refleksi Tan Malaka terhadap bangsa Indonesia yang berkultur feodal. Menurut Buyung, kultur tersebut membuat manusia Indonesia sulit mandiri. Untuk mengubah itu, untuk pertama kalinya Tan Malaka mendirikan sekolah rakyat di daerah Jawa Tengah.
Buyung menambahkan, Tan Malaka adalah sosok yang cerdas dan berkarakter serta teguh pendirian. “Jarang pemimpin Indonesia saat ini yang seperti dia. TNI belajar dari Tan Malaka terkait masalah gerilya dan ekonomi.
Dalam kesempatan ini, Buyung juga menyinggung kasus Century yang tengah menjadi sorotan. “Saya adalah orang pertama yang bilang pada presiden, terbukalah. Sebab, semua yang dilakukan Menteri Keuangan, Gubernur BI adalah tanggung jawab Presiden. Setelah hasil rapat paripurna kemarin, Century akan menjadi bukti apakah hukum di Indonesia berjalan benar atau tidak. Mari kita saksikan,” kata Buyung berapi-api.
Sementara itu, M Arif memaparkan beberapa kesimpulan kenapa jasa dan ketokohan Tan Malaka terpinggirkan. Di antaranya, karena Ia hidup dalam pengejaran Kapitalis Kolonial, memilih berjuang di bawah tanah atau di balik layar dan terakhir bersentuhan dengan PKI.
Terkait yang terakhir, bukan berarti Tan Malaka seorang komunis atheis. Sampai akhir hanyatnya ia tetap seorang muslim yang taat. Arif menjelaskan, aktivitas di PKI semata-mata alat perjuangan. Demikian juga dengan partai-partai lain yang didirikan Tan Malaka seperti PARI dan Murba.
Di tepi lain, Asvi Warman Adam mengatakan, kita tak seharusnya selalu berbicara masalah politik saja. Tapi juga hal-hal sederhana yang menarik. Misalkan kenapa sampai akhir hayat Tan Malak tak menikah, atau kontraversi tentang logat Tan Malaka saat berpidato di Semarang dan sebagainya. Jika penelusuran dilanjutkan, pertanyaatn-pertanyaan sepele ini akan menggiring kita pada jawaban-jawaban penting.
Pembicara keempat Zulhasril Nasir lebih menyorot riwayat hidup, semangat juang dan integritas Tan Malaka. Ia juga mengungkap fakta yang selama ini ditutup oleh Orde Baru bahwa Tan Malaka telah ditetapkan sebagai pahlawan kemerdekaan nasional, berdasarkan Ketetapan Presiden RI No. 53, yang ditandatangani Presiden Soekarno 28 Maret 1963.[MSW]

Minggu, 22 Februari 2009

Anang; Melewati Berbagai Perubahan



Oleh MS Wibowo

Usaha lain yang pernah dilakukannya adalah membuka warung di kontrakannya, di Jl. Semanggi II Cempakah Putih Ciputat. Ia menyebutnya warkos (warung kosan). Tak hanya itu, ia juga pernah tiap malam keliling menjajakan rokok, kopi dan semacamnya ke kontrakan-kontrakan mahasiswa yang masih begadang. Tapi usahanya ini tak dilanjutkan lagi karena kesibukan mengurus kuliah.


Hijrah menjalani hidup ke Jakarta memang tak selalu mudah, walau hanya sebatas menuntut ilmu. Terlebih bagi yang kurang memiliki modal banyak atau tak ada jaminan bulanan dari orang tua. Berbagai rencana, harapan dan angan-angan yang telah tersusun rapih, lengkap dengan plan A, B hingga C kadang berantakan diterpa keadaan dan situasi.

Peras otak, banting tenaga harus beriringan. Semua demi mencapai cita-cita di satu sisi, dan mengisi perut di sisi lain. Di lain sisi lagi, mungkin harus ikut aktif dalam berbagai kegiatan organisasi agar tak menjadi mahasiswa kupu-kupu yang tak bersayap. Katanya sih, agar setelah lulus banyak kenalan yang bisa ngejamin kerja kita nanti.

Tak sedikit, pekerjaan yang enggan berkompromi dengan kuliah atau organisasi. Bagi yang berada di jalur ini, jamu pahit kadang harus ditelan, meskipun tak mau. Banyak cara dan ragam mahasiswa untuk mempertahankan hidup dan demi memeroleh selemabar kertas ijazah. Ada yang menjadi surveyor, ada yang jualan bakso, koran, kertas bekas, memulung sampah dan sebagainya.

Dari puluhan ribu mahasiswa, Anang adalah salah-satu mahasiswa yang menjalani pahitnya perjuangan hidup mahasiswa dengan penuh warna. Ia hijrah dari kampong halamannya di Pemalang Jawa Tengah, sejak 1998 lalu. Di tahun pecahnya reformasi itu pula ia tercatat sebagai mahasiswa di Fakultas Psikologi UIN Jakarta.

Di tengah euforia gelora semangat juang mahasiwa kala itu, Anang pun tak ketinggalan dengan kawan-kawannya. Sebagai orang yang sadar bahwa dirinya tergolong dalam ekonomi menengah ke bawah, ia merasa terpanggil untuk memerjuangkan nasib rakyat. Ia pun selalu tampil di barisan aksi mahasiswa. “Dulu pernah sok-sokan nantangin tentara, dengan ngacung-ngacungin leher ke arah bayonet-bayonet TNI,” tutur Anang.

Pernah juga, lanjut Anang, saya dimarahin kedua orang tua karena mereka melihat saya di TV sedang demo bersama kawan-kawan. Orang tua saya mengkhawatirkan keselamatan saya waktu itu. Tapi saya masih tetap saja ikut demo. “Sekarang sudah maleslah kaya gitu-gitu lagi. Saya mau membenahi hidup dulu sama membereskan kuliah saya,” tegas Anang.

Hingga kini Anang memang belum menyelesaikan studi S1-nya di Psikologi UIN Jakarta. Demi menyelamatkan status mahasiswanya, ia pindah ke program non-regular. Namun ia berharap dapat menyelesaikan kuliahnya tahun ini.

Selain minta sibuk mengurus surat ini, itu, perpanjangan masa studi dan sebagainya, Anang mengumpulkan kertas dan barang-barang bekas untuk dijual. Selain itu ia juga menjadi agen pulsa elektrik. Sistem penjualan pulsa yang ia lakukan hanyalah mulut lewat mulut saja. Penghasilan dari pulsa ini pun tak seberapa, mengingat telah menjamurnya counter-counter HP dan pulsa di Ciputat ini. Ditanya kenapa tak membuka counter HP, Anang menjawab, belum siap. Selain modal sewa tempat yang mahal, saat ini ia masih harus mobile kesana-kemari mengurus banyak hal.

Usaha lain yang pernah dilakukannya adalah membuka warung di kontrakannya di Jl. Semanggi II Cempaka Putih Ciputat. Ia menyebutnya warkos (warung kosan). Tak hanya itu, ia juga pernah tiap malam keliling menjajakan rokok, kopi dan semacamnya ke kontrakan-kontrakan mahasiswa yang masih begadang. Tapi usahanya ini tak dilanjutkan lagi karena kesibukan mengurus kuliah.

Anang memang seorang mahasiswa yang ulet. Hal ini di akui Rustam, teman satu kost-nya. “Salut aku sama kak Anang dalam caranya bertahan di Ciputat ini. Entah darimana ia mendapat ide membuka warkos. Saya juga pernah terkaget dulu ketika saat konversi minyak ke gas baru terjadi. Minyak segera langka waktu itu. Tapi Anang, entah darimana mendapatkan minyak itu. Ibu-ibu dulu tuh pada ngantri di sini untuk membeli minyak,” papar Rustam, mahasiswa semester akhir Fakultas Dirosat Islamiayah.

Anang hanyalah satu dari mahasiwa UIN Jakarta yang menjalani hidup penuh romantika kerja otak banting tulang. Ia juga telah melewati barbagai perubahan yang terjadi di UIN Jakarta. Mulai dari pergantian Orde Baru ke era reformasi, konversi IAIN menjadi UIN Jakarta, pergantian presiden hingga empat kali, gantinya logo UIN Jakarta, bersesernya budaya mahasiwa, baik dari sisi intelektualitas, gerakan, gaya hidup dan sebagainya. Perubahan-perubahan itu telah menempa Anang menjadi sosok yang kuat, baik rohani maupun jasmani. Walau keadaan diri masih belum banyak ganti, tapi tetap ada seberkas harapan di hari esok yang lebih baik.[]

Jumat, 23 Januari 2009

Membangunkan Saat Ujian; Antara Tega dan Kasihan

Sudah menjadi kebiasaan umum mahasiswa menghabiskan waktu malamnya untuk begadang. Ketidakteraturan pola hidup yang sering diidap oleh sebagian mahasiswa itu, tanpa disadari kadang menjadi teratur. Artinya ia telah teratur dengan ketidakteraturannya.
Tapi tak semua mahasiswa suka begadang melewati waktunya dengan kegiatan tanpa arti. Tak sedikit yang memanfaatkan kebiasaannya itu untuk membaca buku atau berdiskusi dengan kawan. Suasana malam yang tenang dan mudah memunculkan inspirasi, menggoda para pecandu malam itu untuk terus terjaga.
Di sisi lain ada dampak negatif dari begadang. Salah-satunya bangun kesiangan. Itu akan menjadi momok menakutkan manakala pagi harinya kita dihadapkan dengan jam perkuliahan. Terlebih jika saat itu adalah momen sacral pengunduhan nilai seperti UAS dan sebagainya.
Kita kerap dihadapkan pada pada dua pilihan sulit menjelang pukul 03.30-05/06.00, manakala tak bisa tidur. Karena pada jam-jam tersebut biasanya kantuk mulai memeluk. Tubuh pun terasa lemas dan kurang bergairah dalam beraktivitas. Ini karena proses metabolisme tubuh tak stabil. Tidur satu-satunya solusi tepat menyelesaikan masalah ini. Mungkin bagi yang takut meninggalkan bangku kuliah, ia akan memaksakan diri berangkat ke kampus walau nantinya tidur di kelas. Tapi jika saat itu adalah masa UAS, mau tak mau kita harus istirahat walau sebentar. Sebab, kerja keras belajar semalaman kita akan sia-sia manakala kita diganggu kantuk saat menjawab soal-soal.
Berbagai upaya meminta bantuan kepada teman, pacar, alarm, waker dan semacamnya dilakukan saat tak tahan mendera kantuk. Tapi dari semua bala bantuan di atas, tak semua bisa diharapkan. Alarm, waker biasanya tak kuat memecah telinga kita. Pacar pun tak leluasa membangunkan kita datang ke kosan. Alhasil, hanya teman yang rajin bangun pagi, yang bisa diandalkan. Namun teman juga kadang tak tegaan untuk melakukan segala cara agar kita bangun. Apalagi kalau kita terlihat lemas capai dan sebagainya. Padahal bila ditimbang lebih jauh, harusnya lebih kasian kalau kita tak ikut ujian.
Oleh karena itu, kempleng, mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Filsafat punya cara sendiri untuk teman yang menyewa bantuannya membangunkan kala pagi. Tahap pertama, ia akan memutar musik sekeras mugkin. Kedua, ia akan melakukan kegiatan beres-beres kamar agar sang tertidur bangun. Kalau masih belum berhasil, Kempleng akan menggoyang-goyang tubuh temannya itu. Kemudian ia coba angkat dan berdirikan. Tahap terakhir jika belum berhasil, ia akan mengguyur teman tersebut. “Biarin mau marah atau apa, daripada nanti pas bangun malah menyesal dan menyalahkan sekitar,” kata Kempleng. Dan salah-seorang yang pernah menjadi korban guyuran maut Kempleng adalah Pandi, mahasiswa Psikologi semester akhir. “Kempleng tu kalau bangunin orang bener-bener. Gue yang pernah jadi korbannya diguyur. Tahu sendiri kan, gue kalau tidur kaya kebo,” ungkap Pandi saat ditemui di Pujasera Centra 36 beberapa hari lalu.[MS Wibowo]

Rabu, 21 Januari 2009

Rebutan Posisi Warnai Ujian Semester UIN Jakarta

UIN Jakarta, Lekompres- Dua minggu terahir ini, seluruh mahasiswa reguler UIN Jakarta resmi melaksanakan ujian akhir semester gasal (UAS). Meski tak benar-benar serempak, tapi 5-17 Januari 2009 memang telah diputuskan pihak birokrasi sebagai waktu pelaksanaan UAS.
Selama mengerjakan soal-soal UAS, banyak ragam cara dan budaya mahasiswa yang berbeda-beda dalam merampungkannya. Hal itu tentu tak sama antara kelas yang satu dengan yang lain, antara jurusan atau fakultas satu dengan lainnya. Dari situ pula,akan tampak karakter masing-masing mahasiwa baik secara individu maupun kolektif kelas atau jurusan. Umumnya terjadi mahasiswa saling atur posisi duduk sebelum ujian, karena mereka yakin, posisi menentukan prestasi.
Sebagai misal pengakuan Titin Safitri, mahasiswa semester VII Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) UIN Jakarta. Ketika musim UAS tiba, tutur Titin, teman-teman di kelasnya biasanya selalu mengatur dan mengklaim bangku yang akan ditempatinya. Mereka berkompromi dengan beberapa teman dan menset duduk mereka dan memilihkan tempat duduk kepada mahasiswa yang dinilai menguasai mata kuliah tersebut. Tempat duduk yang telah dipilih dijaga hingga menjelang ujian dimulai supaya tak ditempati orang yang tak dikehendaki. "Sebel nggak sih, gue setiap kali ujian pasti nyisain tempat buat teman gue. Tujuannya bukan buat nyontek, tapi biar dia dapat tempat sebelum diklaim teman lain. Tapi kemarin giliran gue telat, dia nggak nyiapin tempat buat gue, akhirnya gue duduk di depan. Pas banget depan dosen. Nggak nyaman banget kan?" curhat Titin atas pengalaman buruknya. Titin juga menuturkan, ada seorang teman yang sebelum-sebelumnya sangat sinis padanya, berubah baik mendadak hanya saat UAS mata kuliah yang Titin kuasai.
Sedikit berbeda dengan yang terjadi di Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (PBI FITK). Budaya mengatur posisi terdapat pula di sini. Bedanya, mereka tak mendekati mahasiswa yang mereka nilai pintar. Justru mereka berkompromi dan membentuk kelompok duduk dengan mahasiswa yang penguasaan mata kuliahnya biasa saja, namun cekatan dalam mencari bahan contekan dari catatan-catatan kecil rahasia. "Kalau pas UAS, saya malah malas duduk dengan mahasiswa yang pintar. Sebeb umumnya mereka pelit untuk dimintai bantuan jawabannya. Saya dan beberapa teman biasanya mendekat dengan teman yang jago nyelipin catatan-catatan kecil di berbagai tempat seperti sobekan kertas," ungkap Lisa, mahasiswa semester V PBI.
Lain halnya dengan Dodoy, mahasiswa Perbankan Syariah Fakultas Syariah dan Hukum (PS FSH). Di kelasnya penguasaan matakuliahnya memang biasa saja. Sehingga setiap UAS, tak ada mahasiswa yang mengerubutinya untuk minta contekan. Tapi dia juga tak berusaha mengatur atau mencari tempat duduk dekat dengan mahasiswa yang pintar. Karena itu, ia hanya bisa pasrah dengan hasil IP yang akan didapatnya. "Biasanya anak-anak selalu mencari bangku dekat dengan anak yang pinter. Tapi kalau saya sih masa bodoh. Sering malah dapat tempat duduk pas di depan dosen. Ya tapi saya yaqin, nilai saya tak jelek-jelek amat. Karena walau nggak pintar, saya nggak bodoh-bodoh amat. Momok matakuliah saya cuma matematika ekonomi. Kemarin (5/1) saya sudah pasrah mengerjakan ujian matematika. Karena memang nggak bisa, jadi di kertas ujian paling bawah saya tulis 'pak tolong saya dilulusin. saya dah smster VII. dapat C juga tak apa apa pak," ungkap Dodoy.
Tapi, lanjut Dodoy, pada matakuliah lain, biasanya saya keluar paling dulu. Meskipun tak yakin jawaban saya benar, tak apa. Karena tujuannya bukan itu, melainkan mengganggu konsentrasi peserta UAS lainnya supaya segera keluar juga. Kalau sudah panik, kemungkinan besar kerja mereka tak terlalu beres. "Jadi biar banyak teman yang nilainya jelek, kalau nilai saya jelek," tutur Dodoy sambil tersenyum saat ditemui di rumah kostnya di bilangan Semanggi II Cempaka Putih Ciputat.[MS Wibowo]

Jumat, 22 Agustus 2008

4996 calon mahasiswa baru diterima di UIN Jakarta

tahun akademik 2008-2009 Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Menerima 4996 calon mahasiswa dan ditambah dengan program kemitraan totalnya menjadi 5.046. jumlah ini tentu sangat signifikan jika dibandingkan total calon mahasiswa yang diterima tahun lalu. akan tetapi dilihat dari quota total perfakultas, fakultas umum jauh lebih diminati dibandingkan dengan fakultas agama. jika dilihat dari jumlah mahasiswa yang mendaftar 6785 maka 73% pendaftar lulus dan diharuskan mendaftar ulang sampai dengan tanggal 29 Agustus 2008 atau dinyatakan gugur.

Fakultas Psikologi sendiri pada tahun ini menerima lebih dari 157 orang. hingga kemarin seluruh calon mahasiswa baru telah menjalani tes kesehatan standar.

sumber data:www.uinjkt.ac.id

Rabu, 18 Juni 2008

Ujian Masuk Lokal UIN Jakarta

kalo di barat sekarang lagi siap-siap buat musim semi and musim liburan, di UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA lagi sibuk sibuknya pendaftaran buat ujian masuk lokal yang diadakan secara independen di kampus UIN JAKARTA sampai hari ini menurut situs UIN angka pendaftar udah nyampe angka 1000 lebih, wahh makin banyak aja ya peminat di uin. buat tata cara pendaftarannya kemarin Lekompress dah photo bagannya mungkin ukurannya agak kecil tapi kalo mau lebih jelas diklik aja ya di gambarnya biar lebih gede previewnya.



nah kemarin juga ada temen yang adeknya mau kuliah tapi jiper duluan gara-gara pendaftarnya dah banyak. kalo sepengetahuan gw setiap tahun uin itu nerima mahasiswa sekitar 3.660 orang nah kalo pendaftarnya baru seribu masih ada lahh bangku kosong. tinggal gimana keberuntungan and kemauan lo untuk masuk uin. hari gini orang emang berebut buat masuk kampus negeri yang itungannya biayanya lebih murah dibanding dengan kampus swasta. so lo pasti dah tau kan, makanya jangan mundur sebelum fight and tetep semangat.

Minggu, 30 September 2007

Buka Bersama, BUka JaLan KepEnguRusAn BEM 2007-2008

UIN Jakarta-Lekompress (29/09/2007). BEM terpilih fakultas Psikologi yang baru, mengadakan acara buka bersama dengan anak-anak yatim. acara yang dihadiri 20 anak yatim ini berlangsung seru dengan dipandu pembawa acara Rizki Amali mahasiswa Psikologi semester 7 kelas C. Disamping buka bersama acara ini juga mengundang Alumni, akan tetapi alumni yang hadir jauh diluar dugaan. hal ini disebabkan banyaknya Alumni yang memiliki kesibukan lain. Alumni yang sempat hadir adalah Rena dan Harry. selain itu Lekompress menemui Bobby di tempat acara yang sedang berlangsung. Bobby yang menjabat sebagai Ketua BEM Fakultas Psikologi masa kepengurusan 2006-2007 turut menuturkan bahwa kepengurusannya telah mengadakan buka puasa bersama beberapa hari sebelumnya.

Jumat, 31 Agustus 2007

Temu Alumni dan Intip Peluang Profesi


Fakultas Psikologi-Lekompress. acara propesa tentu saja diadakan juga di Fakultas Psikologi. Setelah mengintip Jadwal acara fakultas yang diberikan panitia kepada LPM Institut dan mendapat informasi dari sumber yang sangat sangat terpercaya, bahwa akan diadakan acara temu alumni, dan mengintip prospek psikologi ke depan maka ditengah kesibukan dalam memantau perkembangan konflik elite yang terjadi di kampus pusat, Lekompress sangat menyempatkan diri sekali untuk melihat acara temu alumni dan intip peluang profesi ini. Alumni yang hadir dalam acara ini diantaranya adalah Rena Latifa, M.Psi, Melok, M.Psi, dan Ghazy Shalom, M.Si acara ini cukup ramai dan mendapat sambutan meriah dari peserta Propesa.
acara ini cukup unik dan menurut pemantauan Lekompress baru dua fakultas yang mengadakan acara semacam ini yaitu Fakultas Ushuluddin dan Psikologi.
Dunia luar dan dunia kampus memang sangat jauh berbeda selain bersaing dengan alumni universitas lain, individu juga harus memutar otak dan membiasakan diri terjun langsung ke dunia yang sebenarnya.
Dengan kondisi Indonesia yang majemuk seperti ini bisa jadi merugikan akan tetapi juga cukup menguntungkan dan memungkinkan untuk menciptakan lapangan pekerjaaan baru yang bisa jadi menyerap banyak anak [dee]

ProPesa Cinta 2007


UIN-Lekompress. propesa yang sudah berjalan 3 hari terhitung gladi resik menyisakan banyak pertanyaan dan kekacauan terutama di kalangan elite kampus. dari mulai dana propesa sampai susunan acara dan penjadwalan acara yang tidak rapih. sampai hari ini dari pantauan Lekompress, kekacauan masih terjadi hingga acara inaugurasi yang dijadwalkan tanggal 8 September 2007. acara inaugurasi yang rencananya akan mendatangkan ten 2 five ini berbenturan dengan acara yang akan diadakan oleh forum UKM yang berformat Expo UKM dan bertajuk Obat Cinta acara ini direncanakan akan diadakan pada tanggal 7-8 September 2007 di Taman Tarbiyah dan pada acara puncak akan menghadirkan Uthopia, Purgatory, dan The Red Molotov.
secara birokrasi izin pengadaan acara sudah dipegang oleh Forum UKM akan tetapi BEMU pun mengaku sudam memegang izin acara. sampai berita ini turun BEMU belum dapat dikonfimasi.

Kamis, 09 Agustus 2007

Nama-nama yang lulus pada Fakultas Psikologi dalam Ujian SPMB Lokal UIN SYarif Hidayatullah Jakarta

Undang - undang dasar Tahun 1945
Pasal 31 ayat 1
+ Setiap Warga Negara Berhak Mendapat PEndidikan +

1 0720001 RIFKY ANUGRAH
2 0720013 EDA PRABOWO KAMIL
3 0720080 DATINI
4 0720287 IBRAHIM
5 0720319 HANIFA MAULIDIA
6 0720485 UMI HIDAYATI LUTFIYANA
7 0720588 PURI NOVIANTI
8 0720602 NURBANI ROSMALA
9 0720606 IMAN LESMANA
10 0720642 ALDILLA RACHMAWATY
11 0720754 HUMAYRA POHAN
12 0720769 SAFITRI
13 0720824 DIAH RESTUFANI
14 0720859 HIFZIAH
15 0720880 LARISHA PUSPLASARI
16 0720889 TIARA AYU NURJANAH
17 0720947 EMA HAYATI
18 0720987 WINDA MELIANA
19 0720988 RALIND RE MARLA
20 0721010 NUNG NURUL BADRIAH
21 0721012 AFITRIA HAYATUN NUPUS
22 0721047 SITI ISNAENI
23 0721062 RATNA PURIJAYANTI
24 0721096 FIGUR PURNAWAN
25 0721111 HAYYU WILDANNISA
26 0721124 SAIFUL BAHRI
27 0721131 ASMASARIH DEWI MANDIRI
28 0721150 M AHFADH FAZLURROHMAN
29 0721234 DERITA QURBANI
30 0721275 LUTFIYAH
31 0721279 SITI ANNISA ULFARA
32 0721390 MUHAMAD SYIFA’UL QULUB
33 0721422 YUSUF HIDAYAT
34 0721436 IRANIA VITO ESLY
35 0721476 IBNUL FADLI
36 0721488 BELGA HANDITYATAMA
37 0721513 ROBIAH MAULIYANTI
38 0721517 IFFATUL MAULA
39 0721528 BAHTIAR HANAFI SAIFULLAH
40 0721540 NISA M.B
41 0721585 RANY MASKERY
42 0721636 MUHAMMAD HAIKEL
43 0721639 DERRI KURNIAWAN
44 0721645 NOBEL HINDAMI AUFAN
45 0721654 MELATI MULIA UTAMI
46 0721662 Q AHMADA ARIFIN
47 0721671 SUCI INDAH TRIEDNA
48 0721720 ANINGETI PRIHANDINI E
49 0721735 MUDRIKAH AMALI NASUTION
50 0721778 DESSY AMELIA PERMATASARI
51 0721812 ASTRID FEBRY NURDIANI
52 0721821 AINUN NISWATI
53 0721904 DESITA LULUAN LOVIANA
54 0721914 REZA INSPIRAWAN
55 0721915 IMAS INDRIYANI
56 0721917 MAHALIA S NURRAHMAH
57 0721954 TRI WAHYUNI
58 0721987 REZA WAHYUDI
59 0721998 LULU SHOLIHAH
60 0722012 RAHMAT BADHIAJI
61 0722032 AFIF MUSTAFA
62 0722128 PUTRI LENGGOGENI
63 0722138 JANUAR ROHMAN
64 0722159 AISYAH NING ASIH
65 0722226 YUSHI WIDYA PRAMITA
66 0722242 NURUL ARIFANI
67 0722244 RIDHA DWI RABIYULLYANA
68 0722250 NASRUL ABDUL MAJID

69 0722277 AGUS CAESARIO
70 0722292 GEMA ANNISAA ANASSETIA
71 0722372 SURYADI
72 0722398 RATU ANISAH FAUZIAH
73 0722423 FAKRIY WIBOWO EDRITAMA
74 0722456 MIRA ISMIRANI
75 0722580 SENNY PRATIWI
76 0722582 CHAHYU KARTIKA KIRANA
77 0722659 CINDY FADILLA ANGGA DEWI
78 0722721 NUR KHAIRUNNISA
79 0722724 RIDWANSYAH
80 0722777 MUHAMMAD IFAN FAUZI
81 0722805 HENDRA SETIADINATA
82 0722816 AHMAD SYARIEF
83 0722840 ARDELIN AYU PRIMYTHASARI
84 0722870 AKMAL PERMATASARI
85 0722881 GHAIDA MUTHI
86 0722970 DINA NURUL ISTIQOMAH
87 0722978 FITRI NURIA
88 0723040 SHINTA ESTHETIKA NUR UTAMI
89 0723061 MUTIA KUSUMA DEWI
90 0723119 ARIEF SUCI K
91 0723142 FADHLIYATURROHMAH
92 0723150 DEWI SUSANTI
93 0723152 LINA NUZULINAWATI
94 0723173 RITA FITRIA
95 0723192 RENY KURNIA SARI
96 0723222 RAFIKA MEUTIA ISTIQOMAH
97 0723228 MAHESSTI PERTIWI
98 0723230 SEPTI AINI NUR
99 0723311 AHMAD FUDOLILI
100 0723312 ANDRIAN NUGRAHA
101 0723316 KIKI RIZKI FITRIANI
102 0723411 FADILA ASHIYAMI
103 0723484 GUSTINA YANTI SIMANGAMBAT
104 0723504 ALFIA AISARA
105 0723557 TRI HARIYONO
106 0723564 SEPTIANY ADITHYA PUTRI
107 0723596 DIEN DINYATI AGUSTINA
108 0723621 SARAH FIEBRINA HERANINGSIH
109 0723652 AHMAD IMADUDIN
110 0723719 KHAIRANI FADHILAH
111 0723750 EKA RAHMAWATI
112 0723767 AULIA NUR MUSTAQIMAN
113 0723774 SITI FATIMAH
114 0723798 AMELIA
115 0723813 ADHITYA PUTRA ANUGERAH
116 0723830 IBADUR RAHMI
117 0723839 AHMAD ULIL ABROR
118 0723879 ALPHINA MUSTIKA RAHAYU
119 0723927 RISKY AZHARI
120 0723958 AFIFAH
121 0723962 EKAPUTRI SAMSU PRATIWI
122 0723971 FARIDA UTAMI
123 0723983 FARANITA
124 0724053 YASHINTA DWININGTIAS
125 0724054 ANNE RUFAIDAH
126 0724075 MARIA ZAKIAH
127 0724085 FITHA NURHIDAYATI
128 0724086 HAZMI IMAMA
129 0724177 MILCHAM CHAIRUN SYAH
130 0724190 KARIMA KUSUMAWARDANI
131 0724203 ADHIM SETIADIANSYAH
132 0724274 NOVITA WULANDARI
133 0724302 SUHENDAR 0700
134 0724309 SITI RUBAIYAH YABANIYAH
135 0724313 LARASTIKA PRIMASARI SW
136 0724317 NYAK CUT RAMADANIATI
137 0724404 NURUL IZZAH ISLAMI
138 0724444 WIDDAH WALIDAH
139 0724449 RINA WULANDARI
140 0724454 RAHMAH ANNURFATMAH
141 0724493 NISA NURDIANA
142 0724542 ANA NURUL ISMI TAMAMI
143 0724558 EKA FEBRINA HERDIYANTI
144 0724600 DECKY ZULFAHRI
145 0724604 NINA FAUZIA
146 0724616 FADILA RUFIANA
147 0724669 DYAH ROBI’AH AL ADAWIYYAH
148 0724744 MUHAMMAD KHOLIQ WAHYU Y
149 0724771 SORAYAH
150 0724775 FREDY KUNDARTO
151 0724787 SHELY ROSIARTI
152 0724807 MUHAMMAD ADAM FAJRUN SIDDIG
153 0724818 INAYAH MARDIAH
154 0724881 NURUL FAJAR WAHYUNI
155 0724890 AHMAD RUSYDI
156 0724905 ANGGIES PRADINI
157 0724963 ARINI NUR HAQUE
158 0724974 AWSATHUN RAMDHANIATI
159 0725015 GALANG ANJANI MARTHA
160 0725018 ABDUL AZIZ
161 0725029 IRA HASNARIA
162 0725084 FERDIAN SATRIAWAN
163 0725172 HERMAWATI WIDYAPRATAMI
164 0725188 AMALIA ULFAH
165 0725230 A BURHAN RIFAI
166 0725261 MUHAMMAD FAIQUN NUHA
167 0725295 ARDI RAMDANI
168 0725300 IRFAN
169 0725301 ANISSA UTAMI
170 0725304 GILANG RAKA PRATAMA
171 0725321 MAULIDA DISA PRATIWI
172 0725326 RAJIB EKA PRYANDHA
173 0725365 IKA NOVITASARI
174 0725454 TEDDY DJULIARKI KURNIAWAN
175 0725475 AMANDA ANANDITA
176 0725501 IQBAL RAMADHAN
177 0725528 AMALIA KUSUMA PUTRI
178 0725554 TRIAS NUGRAHASANAH SINGGIH
179 0725644 DITA SABARIAH
180 0725754 NELAN MAROQI
181 0725779 GHARIZI MATINI
182 0725869 FARAH SHAFIRA
183 0725871 LARAS SANTOSO
184 0725932 NELDA NILAM SARI
185 0726036 NURUL AINI
186 0726048 EVELINE ISNAINI
187 0726085 SITI MULYATI
188 0726144 UYUN KHURRUL’AIN
189 0726151 TRI ARYADI
190 0726319 RENNY ANGGARANI NUR P

Senin, 23 Juli 2007

Fakultas Psikologi



Alamat: Jl. Kertamukti Pisangan Ciputat,
Telepon: (021) 7433060;
Email: info@uinjkt.ac.id;
Dekan: Dra. Netty Hartati, M.Si
Pembantu Dekan I Bid. Akademik: Dra. Zahrotun Nihayah, M.Si
Pembantu Dekan II Bid. Adm. Umum: Prof. Dr. H. Rif'at Syauqi Nawawi, MA
Pembantu Dekan I Bid. Kemahasiswaan: Drs. Ahmad Syahid, M.Ag

Fakultas Psikologi merupakan fakultas pertama yang didirikan dalam rangka perubahan IAIN menjadi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Fakultas ini lahir berdasarkan keputusan rapat Senat IAIN Jakarta yang kemudian dituangkan dalam Keputusan Rektor Nomor 004 Tahun 2001.

Fakultas Psikologi diarahkan untuk menghasilkan sarjana yang dapat memberikan kontribusinya dalam mengatasi masalah psikologi dan problemati-kanya yang diformulasikan dengan pende-katan nilai-nilai keagamaan. Fakultas Psikologi saat ini hanya mengelola 1 (satu) program studi, dan lulusannya memperoleh ijazah dengan gelar akademik Sarjana Psikologi (S.Psi).

Mata Kuliah Keahlian yang diajarkan di Fakultas Psikologi meliputi: Antropologi, Psikologi Umum, Filsafat Manusia, Psikologi Perkembangan, Psikologi Pendidikan, Statis-tik, Psikologi Faal, Diagnostik, Psikologi Agama, Psikologi Sosial, Psikologi Kepriba-dian, Psikologi Kognitif, Bimbingan dan Penyuluhan, Psikologi Eksperimen, Psikologi Abnormal dan Patalogi, Psiko-logi Klinis, Psikometri Peny. Skala Psikologi, Psikologi Konseling, Kesehatan Mental, Psikologi Industri dan Organisasi, Psikoterapi, Islam dan Kesehatan Mental, Konseling Agama, Seminar, Pelatihan, Skripsi.