ads
Jumat, 12 Maret 2010
Konser Tunggal Postar Jilid III
Senin, 08 Maret 2010
TNI Belajar Ekonomi Dan Gerilya Pada Tan Malaka
Tangerang-Lekompress, “Ketika itu saya kelas IV SD. Tan Malaka pernah menginap dan tidur sekamar dengan saya. Beliau bertanya, ‘Buyung, kalau ada maling masuk ke rumahmu, apa yang kamu lakukan? Apakah kamu ajak berunding, menjamunya atau dibiarkan saja?’” “Tidak Buyung, kalau ada maling masuk ke rumah, yang pertama kita lakukan adalah tendang dulu dia keluar.”
Demikian Adnan Buyung Nasution menceritakan kisah puluhan tahun lalu bersama Tan Malaka, pada acara “In Memoriam 61 Tahun Hilangnya Tan Malaka” senin (8/3) di Aula Student Center UIN Jakarta. Dalam penyelenggaraannya, panitia In Memoriam menggandeng Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) IPA Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Jakarta.
Selain Buyung, hadir sebagai pembicara Asvi Warman Adam (sejarawan dan peneliti LIPI), Zulhasrul Nasir (Guru Besar Ilmu Komunikasi Fisip UI), M. Arif (Dosen pendidikan dan peneliti sejarah UIN Jakarta), serta di moderatori Bonie Triyana (Chief Editor Historia Of Indonesia).
Pada kesempatan ini, Adnan Buyung Nasution juga mengungkapkan, Tan Malaka adalah orang yang bercita-cita, jika merdeka, Indonesia harus menjadi negara republik. Ini merupakan refleksi Tan Malaka terhadap bangsa Indonesia yang berkultur feodal. Menurut Buyung, kultur tersebut membuat manusia Indonesia sulit mandiri. Untuk mengubah itu, untuk pertama kalinya Tan Malaka mendirikan sekolah rakyat di daerah Jawa Tengah.
Buyung menambahkan, Tan Malaka adalah sosok yang cerdas dan berkarakter serta teguh pendirian. “Jarang pemimpin Indonesia saat ini yang seperti dia. TNI belajar dari Tan Malaka terkait masalah gerilya dan ekonomi.
Dalam kesempatan ini, Buyung juga menyinggung kasus Century yang tengah menjadi sorotan. “Saya adalah orang pertama yang bilang pada presiden, terbukalah. Sebab, semua yang dilakukan Menteri Keuangan, Gubernur BI adalah tanggung jawab Presiden. Setelah hasil rapat paripurna kemarin, Century akan menjadi bukti apakah hukum di Indonesia berjalan benar atau tidak. Mari kita saksikan,” kata Buyung berapi-api.
Sementara itu, M Arif memaparkan beberapa kesimpulan kenapa jasa dan ketokohan Tan Malaka terpinggirkan. Di antaranya, karena Ia hidup dalam pengejaran Kapitalis Kolonial, memilih berjuang di bawah tanah atau di balik layar dan terakhir bersentuhan dengan PKI.
Terkait yang terakhir, bukan berarti Tan Malaka seorang komunis atheis. Sampai akhir hanyatnya ia tetap seorang muslim yang taat. Arif menjelaskan, aktivitas di PKI semata-mata alat perjuangan. Demikian juga dengan partai-partai lain yang didirikan Tan Malaka seperti PARI dan Murba.
Di tepi lain, Asvi Warman Adam mengatakan, kita tak seharusnya selalu berbicara masalah politik saja. Tapi juga hal-hal sederhana yang menarik. Misalkan kenapa sampai akhir hayat Tan Malak tak menikah, atau kontraversi tentang logat Tan Malaka saat berpidato di Semarang dan sebagainya. Jika penelusuran dilanjutkan, pertanyaatn-pertanyaan sepele ini akan menggiring kita pada jawaban-jawaban penting.
Pembicara keempat Zulhasril Nasir lebih menyorot riwayat hidup, semangat juang dan integritas Tan Malaka. Ia juga mengungkap fakta yang selama ini ditutup oleh Orde Baru bahwa Tan Malaka telah ditetapkan sebagai pahlawan kemerdekaan nasional, berdasarkan Ketetapan Presiden RI No. 53, yang ditandatangani Presiden Soekarno 28 Maret 1963.[MSW]
Minggu, 22 Februari 2009
Anang; Melewati Berbagai Perubahan
Usaha lain yang pernah dilakukannya adalah membuka warung di kontrakannya, di Jl. Semanggi II Cempakah Putih Ciputat. Ia menyebutnya warkos (warung kosan). Tak hanya itu, ia juga pernah tiap malam keliling menjajakan rokok, kopi dan semacamnya ke kontrakan-kontrakan mahasiswa yang masih begadang. Tapi usahanya ini tak dilanjutkan lagi karena kesibukan mengurus kuliah.
Hijrah menjalani hidup ke Jakarta memang tak selalu mudah, walau hanya sebatas menuntut ilmu. Terlebih bagi yang kurang memiliki modal banyak atau tak ada jaminan bulanan dari orang tua. Berbagai rencana, harapan dan angan-angan yang telah tersusun rapih, lengkap dengan plan A, B hingga C kadang berantakan diterpa keadaan dan situasi.
Peras otak, banting tenaga harus beriringan. Semua demi mencapai cita-cita di satu sisi, dan mengisi perut di sisi lain. Di lain sisi lagi, mungkin harus ikut aktif dalam berbagai kegiatan organisasi agar tak menjadi mahasiswa kupu-kupu yang tak bersayap. Katanya sih, agar setelah lulus banyak kenalan yang bisa ngejamin kerja kita nanti.
Tak sedikit, pekerjaan yang enggan berkompromi dengan kuliah atau organisasi. Bagi yang berada di jalur ini, jamu pahit kadang harus ditelan, meskipun tak mau. Banyak cara dan ragam mahasiswa untuk mempertahankan hidup dan demi memeroleh selemabar kertas ijazah. Ada yang menjadi surveyor, ada yang jualan bakso, koran, kertas bekas, memulung sampah dan sebagainya.
Dari puluhan ribu mahasiswa, Anang adalah salah-satu mahasiswa yang menjalani pahitnya perjuangan hidup mahasiswa dengan penuh warna. Ia hijrah dari kampong halamannya di Pemalang Jawa Tengah, sejak 1998 lalu. Di tahun pecahnya reformasi itu pula ia tercatat sebagai mahasiswa di Fakultas Psikologi UIN Jakarta.
Di tengah euforia gelora semangat juang mahasiwa kala itu, Anang pun tak ketinggalan dengan kawan-kawannya. Sebagai orang yang sadar bahwa dirinya tergolong dalam ekonomi menengah ke bawah, ia merasa terpanggil untuk memerjuangkan nasib rakyat. Ia pun selalu tampil di barisan aksi mahasiswa. “Dulu pernah sok-sokan nantangin tentara, dengan ngacung-ngacungin leher ke arah bayonet-bayonet TNI,” tutur Anang.
Pernah juga, lanjut Anang, saya dimarahin kedua orang tua karena mereka melihat saya di TV sedang demo bersama kawan-kawan. Orang tua saya mengkhawatirkan keselamatan saya waktu itu. Tapi saya masih tetap saja ikut demo. “Sekarang sudah maleslah kaya gitu-gitu lagi. Saya mau membenahi hidup dulu sama membereskan kuliah saya,” tegas Anang.
Hingga kini Anang memang belum menyelesaikan studi S1-nya di Psikologi UIN Jakarta. Demi menyelamatkan status mahasiswanya, ia pindah ke program non-regular. Namun ia berharap dapat menyelesaikan kuliahnya tahun ini.
Selain minta sibuk mengurus surat ini, itu, perpanjangan masa studi dan sebagainya, Anang mengumpulkan kertas dan barang-barang bekas untuk dijual. Selain itu ia juga menjadi agen pulsa elektrik. Sistem penjualan pulsa yang ia lakukan hanyalah mulut lewat mulut saja. Penghasilan dari pulsa ini pun tak seberapa, mengingat telah menjamurnya counter-counter HP dan pulsa di Ciputat ini. Ditanya kenapa tak membuka counter HP, Anang menjawab, belum siap. Selain modal sewa tempat yang mahal, saat ini ia masih harus mobile kesana-kemari mengurus banyak hal.
Usaha lain yang pernah dilakukannya adalah membuka warung di kontrakannya di Jl. Semanggi II Cempaka Putih Ciputat. Ia menyebutnya warkos (warung kosan). Tak hanya itu, ia juga pernah tiap malam keliling menjajakan rokok, kopi dan semacamnya ke kontrakan-kontrakan mahasiswa yang masih begadang. Tapi usahanya ini tak dilanjutkan lagi karena kesibukan mengurus kuliah.
Anang memang seorang mahasiswa yang ulet. Hal ini di akui Rustam, teman satu kost-nya. “Salut aku sama kak Anang dalam caranya bertahan di Ciputat ini. Entah darimana ia mendapat ide membuka warkos. Saya juga pernah terkaget dulu ketika saat konversi minyak ke gas baru terjadi. Minyak segera langka waktu itu. Tapi Anang, entah darimana mendapatkan minyak itu. Ibu-ibu dulu tuh pada ngantri di sini untuk membeli minyak,” papar Rustam, mahasiswa semester akhir Fakultas Dirosat Islamiayah.
Anang hanyalah satu dari mahasiwa UIN Jakarta yang menjalani hidup penuh romantika kerja otak banting tulang. Ia juga telah melewati barbagai perubahan yang terjadi di UIN Jakarta. Mulai dari pergantian Orde Baru ke era reformasi, konversi IAIN menjadi UIN Jakarta, pergantian presiden hingga empat kali, gantinya logo UIN Jakarta, bersesernya budaya mahasiwa, baik dari sisi intelektualitas, gerakan, gaya hidup dan sebagainya. Perubahan-perubahan itu telah menempa Anang menjadi sosok yang kuat, baik rohani maupun jasmani. Walau keadaan diri masih belum banyak ganti, tapi tetap ada seberkas harapan di hari esok yang lebih baik.[]

